Tampilkan posting dengan label UKG. Tampilkan semua posting
Tampilkan posting dengan label UKG. Tampilkan semua posting

Dampak Globalisasi bagi Kehidupan

Dampak Globalisasi bagi Kehidupan
Dampak Globalisasi bagi Kehidupan. Istilah globalisasi saat ini menjadi sangat popular karena berkaitan dengan gerak pembangunan Indonesia,terutama berkaitan dengan sistem ekonomi terbuka, dan perdangangan bebas. Era globalisasi ditandai dengan adanya persaingan semakin tajam, padatnya informasi, kuatnya komunikasi, dan keterbukan. Tanpa memiliki kemampuan ini maka Indonesia akan tertinggal jauh dan terseret oleh arus globalisasi yang demikian dahsyat.

Ada beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya John huckle (Miriam steiner, 1996) yang menyatakan bahwa globalisasi adalah “suatu proses dengan mana kejadian, keputusan dan kegiatan di salah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat didaerah yang jauh”.

Arus globalisasi di Indonesia pada mulanya sangat terasa pada aspek ekonomi. Hal ini
ditandai dengan adanya APEC dan AFTA yang semuanya menjurus pada perdagangan bebas. Namun semakin ke depan aspek politik, budaya, dan hukum mulai terasa terutama dengan adanya LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang bekerja dalam lingkup internasional. Selain itu dalam bidang politik, gaung reformasi sangat cepat merambat keseluruh dunia, dimana komentar dan opini internasional sangat deras masuk ke Indonesia. Demikian pula halnya dalam aspek budaya yang didukung oleh teknologi elektronik, maka dunia semakin sempit. Setiap hari kita dapat menyaksikan kejadian-kejadian di seluruh dunia dalam waktu beberapa menit saja.

Globalisasi mempunyai dampak baik positif maupun negatif. Sebagaimana dikemukakan oleh Tilaar (1998) bahwa dampak positifnya akan menyebabkan munculnya masyarakat megakompetisi, dimana setiap orang akan berlomba untuk berbuat yang terbaik untuk mencapai yang terbaik pula. Untuk berkompetisi ini diperlukan kualitas yang tinggi. Dalam era globalisasi adalah era mengejar keunggulan dan kualitas, sehingga masyarakat menjadi dinamis, aktif dan kreatif.

Sebaliknya, globalisasi juga bisa menjadi ancaman budaya bangsa. Globalisasi akan melahirkan budaya global dan akan menjadi ancaman bagi budaya bangsa. Rendahnya tingkat pendidikan  akan menjadi ancaman bagi budaya lokal, atau budaya bangsa. Rendahnya tingkat pendidikan akan menjadi salah satu penyebab cepatnya masyarakat terseret oleh arus globalisasi dengan menghilangkan identitas diri atau bangsa. Sebagai contoh, “anak remaja” kita dengan cepat meniru potongan rambut, model pakaian atau yang tidak cocok dengan jati diri bangsa kita.

Globalisasi ini dapat melanda berbagai bidang kehidupan, Emil Salim (Mimbar, 1989) mengemukakan ada empat kekuatan yang membuat dunia menjadi semakin transparan yaitu perkembangan IPTEK yang semakin tinggi, perkembangan bidang ekonomi yang mengarah pada perdagangan bebas, lingkungan hidup, dan politik. 

Globalisasi dalam bidang ekonomi membawa pengaruh terhadap bidang lain antara lain hukum, busaya, politik dan bahkan lingkungan. Regionalisasi dalam bidang ekonomi merupakan awal dari proses globalisasi. ASEAN sebagai suatu kerjasama negara-negara Asia Tenggara menyadari pentingnya suatu kerjasama dalam bidang perdagangan. Oleh karena itu timbullah berbagai kesepakatan antara Negara ASEAN untuk membentuk lembaga ekonomi regional.

Munculnya berbagai lembaga perekonomian antara bangsa yang menunjukkan bahwa suatu negara tidak dapat lagi sendirian dalam hidup dan membangun bangsanya. Misalnya, Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), Asia Pacific Economic Corporation (APEC), AFTA dan sebagainya.

Saat ini, kita merasakan bahwa krisis moneter yang melanda negeri kita ini, dirasakan pula oleh Negara lain di hampir seluruh Negara Asia Tenggara dan Asia Timur termasuk Jepang dan Korsel. Di belahan Eropa, Rusia juga mengalami krisis serupa. Perubahan kurs mata uang di satu negara akan mempengaruhi negara lainnya sehingga akan merubah arus ekspor dan impor.
Menurut Marwah Daud Ibrahim bahwa iptek mengandung dilemma atau bermata dua. Disatu pihak kita bersyukur menikmati rahmat, yang anda hayati dan nikmati seperti berbagai stasiun TV telah memanfaatkan penyiaran globalnya melalui satelit komunikasi, sedang dampak negative perkembangan, kemajuan dan penerapan ipteks yang menghasilkan  berbagai ketimpangan oleh Toffler disebut “Guncangan Hari Esok”.  Coba anda amati dan hayati : penyakit yang timbul di masyarakat yang mengglobal.

Dengan makin berkembang dan  makin maju transportasi, konsep ekonomi tentang kebutuhan dan sumber daya produksi, distribusi dan komsumsi makin nyata makna dan nilainya. Namun kemajuan transportasi ini ada yang memanfaatkan untuk tujuan negatif. Transportasi telah menjadi kebutuhan mutlak kehidupan global dewasa ini, namun dampak negatifnya wajib diwaspadai. Dampak negative ini selain melekat pada diri pelakunya ,juga ditunjang oleh rendahnya kadar akhlak petugas.

Manusia sebagai makhluk hidup yang berbudaya, mengembangkan iptek memiliki kemampuan, cara dan kiat berkomunikasi yang beragam. Sejalan dengan perkembangan ,kemajuan dan penggunaan transportasi serta media elektronik ( radio,TV, internet) kontak interaksi social untuk berkomunikasi juga makin maju. Proses dan arus global kehidupan manusia makin dipacu melalui komunikasiini, makin lama komunikasi ini makin menjadi kebutuhan yang tidak dapat lepas dari kebutuhan.Namun bagi kepentingan-kepentingan tertentu yang harus dirahasiakan, fenomena-fenomena tertentu yang tidak boleh disebarluaskan, kemajuan alat komunikasi  canggih seperti internet juga mengandung bahaya. Dengan memanfaatkan  internet, informasi dari berbagai penjuru dunia, mengenai aspek apa saja yang dikehendaki dalam waktu singkat dapat diperoleh

Pembelajaran Pecahan

Pembelajaran Pecahan
Untuk menjaga agar tubuh kita tetap sehat sehingga dapat melakukan berbagai aktivitas kehidupan, kita harus mengetahui kebutuhan energi tubuh kita setiap harinya. Sebagai contoh kita harus mengetahui berapa persen kebutuhan karbohidrat, protein, lemak dan vitamin setiap harinya. Terkait hal itu kita harus mempunyai pengetahuan yang cukup tentang jenis makanan dan kandungan gizinya serta mampu menghitung kebutuhan gizi yang kita perlukan.

Untuk dapat menghitung berapa kebutuhan energi yang kita butuhkan, seperti persen kebutuhan karbohidrat, protein, lemak dan vitamin setiap harinya, kita harus mengetahui tentang hitung campuran, khususnya pada pecahan. Oleh karena itu, marilah kita membahas mengenai pecahan dan cara pembelajarannya.

1. Pecahan
Pecahan adalah suatu bilangan yang dapat ditulis melalui pasangan terurut dari bilangan bulat a dan b, dan dilambangkan dengan a/b , dengan b ≠ 0. Pada pecahan a/b, a disebut pembilang dan b disebut penyebut.

2. Jenis-jenis Pecahan
Ditinjau dari perbandingan besar nilai pembilang dan penyebut, pecahan dibedakan menjadi dua (2) yaitu :

a. Pecahan Sejati (Pecahan Murni)
Pecahan sejati adalah pecahan yang nilai positif pembilang lebih kecil dari nilai positif penyebut. Contoh 2/3, 5/7, dan 9/10 adalah contoh-contoh bilangan pecahan sejati

b. Pecahan Tidak Sejati (Pecahan Campuran)
Pecahan tidak sejati adalah pecahan yang nilai positif pembilang lebih besar dari nilai positif penyebut. Contoh 10/7, 12/9, dan 2 1/4 adalah contoh-contoh bilangan pecahan tak sejati.

Pecahan tak sejati 10/7 dapat ditulis dalam bentuk 1 3/7 , yang berarti 10/7 = 1 3/7 . Pecahan dalam bentuk 1 3/7 disebut pecahan campuran. Jadi pecahan campuran adalah pecahan yang penulisannya merupakan gabungan dari bilangan bulat dan pecahan sejati.

Ditinjau dari nilai pembilang atau penyebutnya, dan hubungan antara pembilang dan penyebut, pecahan dibedakan menjadi:

1) Pecahan Sederhana
Pecahan sederhana adalah pecahan yang FPB (Faktor Persekutuan Terbesar) dari pembilang dan penyebutnya adalah 1. Contoh 5/7, 2/3, dan 5/3 adalah contoh-contoh pecahan sederhana karena FPB dari pembilang dan penyebutnya adalah 1.

2) Pecahan Senama
Pecahan senama adalah pecahan yang penyebutnya sama. Contoh 2/4, 3/4, dan 1/4 adalah contoh-contoh pecahan senama karena penyebutnya sama.

3) Pecahan Desimal
Pecahan desimal adalah pecahan yang penyebutnya berbentuk 10n atau jumlahan dari pecahan-pecahan yang penyebutnya berbentuk 10n dengan n bilangan asli. Contoh 1/10, 1/100. , 1/1.000, 2/100, dan 0,03 adalah contoh-contoh pecahan desimal.

3. Penjumlahan Pecahan
Diketahui a/b dan c/d bilangan-bilangan pecahan dengan b ≠ 0, d ≠ 0. Penjumlahan dari a/b dan c/d, ditulis a/b + c/d, didefinisikan dengan
a
+
c
=
ad + bc
bdbd
Contoh 1 :
3
+
2
=
3.5 + 4.2
=
15+8
=
23
454.52020
Teorema 1
Jika a/c dan b/c pecahan-pecahan dengan c ≠ 0, maka a/c + b/c = a+c/b.
Contoh 2 :
5
+
8
=
5.21
+
8.7
=
105
=
56
=
161
7217.217.21147147147
Sifat-sifat penjumlahan pecahan:
  • Tertutup, yaitu jika x dan y pecahan-pecahan maka x + y juga pecahan.
  • Pertukaran (Komutatif), yaitu jika x dan y pecahan-pecahan maka berlaku x + y = y + x.
  • Sifat Asosiatif (Pengelompokan), yaitu jika x, y dan z pecahan-pecahan maka (x + y) + z = x + (y + z).
  • Mempunyai elemen identitas yaitu 0, dan berlaku x + 0 = 0 + x = x untuk setiap pecahan x.
4. Pengurangan Pecahan
Diketahui a/b c/d pecahan-pecahan dengan b ≠ 0, d ≠ 0, penguranga a/b dengan c/d, ditulis
a
-
c
=
ad - bc
bdbd
Teorema 2
Jika a/b dan c/d pecahan-pecahan dengan c ≠ 0 maka a/c + b/c = a - c/b.
Pada pengurangan yang berlaku hanya sifat tertutup, yaitu jika x dan y pecahan-pecahan maka x – y pecahan.

5. Perkalian Pecahan
Diketahui a/b dan c/d pecahan-pecahan dengan b ≠ 0, d ≠ 0, perkalian a/b dengan c/d, ditulis a/b x c/d, didefinisikan dengan
a
x
c
=
ac
bdbd
Sifat-sifat Operasi Perkalian :
  • Pertukaran (komutatif), yaitu jika x dan y pecahan-pecahan maka x . y = y . x
  • Tertutup, yaitu jika x dan y pecahan-pecahan maka x . y juga pecahan.
  • Assosiatif (pengelompokan), yaitu jika x, y dan z pecahan-pecahan maka (x.y)z = x (y . z).
  • Mempunyai elemen identitas 1, yaitu jika x pecahan maka x . 1 = 1 . x = x
  • Setiap elemen mempunyai invers, yaitu jika x = a/b pecahan dengan a ≠ 0 dan b ≠ 0 maka x mempunyai invers terhadap operasi perkalian yaitu b/a dan berlaku a/b . b/a = b/a . a/b = 1
  • Sifat Distributif (Penyebaran). 1) Distributif (penyebaran) kiri, yaitu jika a, b dan c pecahan-pecahan, maka a×(b+c) = a × b +a × c. 2). Distributif (penyebaran) kanan, yaitu jika a, b dan c pecahan-pecahan, maka (b+c) × a= b × a + c × a.

6. Pembagian Pecahan
Diketahui a/b dan c/d pecahan-pecahan dengan b ≠ 0, d ≠ 0, pembagian a/b dengan c/d, ditulis a/b : c/d, didefinisikan dengan
a
:
c
=
a
x
c
bdbd

7. Pecahan Ekuivalen
Adalah pecahan yang mempunyai nilai yang sama atau pecahan yang senilai atau seharga. Sifat-sifat pecahan ekuivalen:
  • Pecahan a/b dan c/d , dengan b ≠ 0 dan d ≠ 0 dikatakan pecahan ekuivalen ditulis a/b = c/d jika hanya jika a x d = b x c.
  • Pecahan a/b dan c/d , dengan b ≠ 0 dan d ≠ 0 dikatakan pecahan ekuivalen ditulis a/b = c/d jika hanya jika c = m x a dan d = m x b untuk suatu bilangan bulat m. Contoh :
2
=
10
sebab 10 = 2 x 5 dan 15 = 3 x 5
315

8. Relasi Urutan Pecahan
Diketahui &a/b dan c/d adalah pecahan-pecahan . Pecahan a/b dikatakan kurang dari c/d , ditulis a/b < c/d jika terdapat pecahan positif e/f sehingga berlaku
c
=
a
+
e
dbf
Contoh :
8/12 < 9/12 sebab terdapat pecahan positif 1/12 sehingga berlaku
9
=
8
+
1
121212
Teorema 3
Diketahui a/c dan b/c adalah pecahan-pecahan dengan c > 0. Pecahan a/c dikatakan kurang dari b/c, yaitu a/c < b/c jika dan hanya jika a < b.
Contoh 1 :
2
<
5
sebab 3 > 0 dan 2< 5
33
Contoh 2 :
- 5
<
-1
sebab 4 > 0 dan -5 < -1
44
Teorema 4
Diketahui a/b dan c/d pecahan-pecahan dengan b > 0 dan d > 0
a
<
c
Û a x d < b x c
bd
9. Pembelajaran Pecahan
Untuk memperkenalkan konsep pecahan kepada siswa SD/MI perlu diberikan peragaan dengan mengambil contoh pengalaman-pengalaman yang dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Peragaan yang dapat dipakai untuk menanamkan konsep pecahan beserta operasi-operasinya di antaranya: 1) Benda konkret, 2) Luas daerah, dan 3) Garis Bilangan.
Contoh 1. (Pecahan didasarkan atas himpunan bagian)

Misal Amir mempunyai 9 kelereng, dengan perincian 2 kelereng berwarna biru dan 7 kelereng berwarna merah.
Perbandingan banyaknya kelereng yang berwarna biru terhadap keseluruhan kelereng adalah 2 : 9 atau 2/9 . Sedangkan perbandingan banyaknya kelereng yang berwarna merah terhadap keseluruhan kelereng adalah 7 : 9 atau 7/9 .

Contoh 2. (Pecahan didasarkan atas pembagian benda)
aaaaaaaa
aaaaaaaa
aaaaaaaa
Daerah persegi panjang tersebut dibagi menjadi 3 bagian yang sama besarnya. Daerah yang diarsir (hitam) menempati 1 bagian dari 3 bagian keseluruhan. Oleh karena itu daerah yang diarsir menyatakan pecahan 1/3.

10. Pembelajaran Pecahan Senilai
Pecahan senilai adalah pecahan-pecahan yang cara penulisannya berbeda tetapi mempunyai nilai yang sama atau menyatakan bilangan yang sama. Secara matematika, dua pecahan a/b dan c/d dikatakan senilai, ditulis a/b = c/d jika a x d = b x c. Pecahan senilai disebut juga dengan pecahan ekuivalen.
Jika dibandingkan yaitu dengan cara menghimpitkan daerah yang satu dengan daerah yang lain maka akan diperoleh bahwa ketiga daerah yang diarsir pada diagram tersebut sama besar. Oleh karena pecahan-pecahan yang menyatakan ketiga daerah tersebut ekuivalen satu dengan yang lain, yaitu 1/2 = 2/4 = 4/8.

11. Pembelajaran Membandingkan Pecahan
Terdapat beberapa cara mengurutkan pecahan, yaitu:
(1). Dengan membandingkan besar daerah yang mewakili suatu pecahan.
(2). Dengan membandingkan letak titik pada garis bilangan yang mewakili suatu pecahan.
(3). Dengan menyamakan penyebutnya, dengan menggunakan pecahan senama
Contoh. Bandingkan 2/3 dan 5/6 .

Pembahasan:
Cara I:
Apabila dibandingkan besarnya daerah yang menyatakan pecahan 2/3 yaitu daerah (1) dengan daerah yang menyatakan pecahan 5/6 yaitu daerah (2), maka terlihat bahwa daerah (2) lebih besar (lebih menjorok ke kanan) daripada dearah (1). Oleh karena itu diperoleh bahwa 2/3 < 5/6.

Cara II:
Berdasarkan garis bilangan tersebut dapat dilihat bahwa titik yang mewakili bilangan 5/6 letaknya di sebelah kanan titik yang mewakili bilangan 2/3 . Jadi diperoleh 2/3 < 5/6.

12. Pembelajaran Penjumlahan Pecahan
a. Penjumlahan Pecahan dengan Penyebut Sama
b. Penjumlahan Pecahan dengan Penyebut Berbeda
Untuk menjumlahkan pecahan yang penyebutnya berbeda, kita harus mencari pecahan-pecahan yang senilai dengan pecahan terjumlah maupun penjumlah sehingga diperoleh pecahan-pecahan yang penyebut sama.
Berdasakkan gambar terlihat bahwa daerah hasil penggabungan menempati 7 bagian dari 6 bagian keseluruhan.

13. Pembelajaran Pengurangan Pecahan
a. Pengurangan Pecahan dengan Penyebut Sama

b. Pengurangan Pecahan dengan Penyebut Berbeda
Untuk melakukan pengurangan pecahan yang penyebutnya berbeda, kita harus mencari pecahan-pecahan yang senilai dengan pecahan terkurang maupun pengurang sehingga diperoleh pecahan-pecahan yang penyebut sama, kemudian dijumlahkan pembilangnya dan dibagi dengan penyebutnya

Berdasarkan gambar terlihat bahwa daerah hasil pengurangan menempati 1 bagian dari 6 bagian keseluruhan atau 1/6.

14. Pembelajaran Perkalianan Pecahan
a. Perkalian Bilangan Asli dengan Pecahan

Berdasarkan gambar terlihat bahwa daerah hasil penggabungan menempati 6 bagian dari 4 bagian keseluruhan atau 6/4 atau dapat dipandang sebagai 1 utuh ditambah 1/2 atau 1 1/2 .
b. Perkalian Pecahan degan Bilangan Asli
Contoh. 2/3 x 6 = ....

Garis bilangan dari 0 sampai 6 dibagi menjadi 3 bagian yang sama, dan 3/4 bagiannya ternyata sama dengan 4. Jika setiap skala dibagi lagi menjadi 3 bagian yang sama, maka posisi 4 akan menempati 12 bagian dari 3 bagian atau 12/3 .

c. Perkalian Pecahan dengan Pecahan
Untuk menentukan hasilnya ditentukan dengan cara sebagai berikut:
  • Pembilang : Banyaknya daerah persegi panjang yang merupakan irisan dari daerah yang dibatasi oleh 2/5 dan 3/4.
  • Penyebut : Banyaknya daerah persegi panjang pada daerah persegi yang panjang sisi-sisinya satu satuan panjang.
Daerah yang panjang dan lebarnya sama dengan satu ternyata dibagi menjadi 20 bagian yang sama. Sedangkan daerah persegi panjang yang panjangnya 2/5 dan lebarnya 3/4 menempati 6 bagian dari 20 bagian keseluruhan.

15. Pembelajaran Pembagian Pecahan

a. Pembagian Bilangan Asli dengan Pecahan
b. Pembagian Pecahan degan Bilangan Asli

Pembelajaran Bahasa

Pembelajaran Bahasa
1. Pembelajaan Menyimak
Menyimak merupakan kegiatan yang sangat fungsional dalam kehidupan manusia sehari-hari. Peranan menyimak dalam kehidupan manusia untuk:(1) landasan belajar bahasan, (2) penunjang keterampilan yang lain, yaitu berbicara, membca, dan menulis, (3) pelancar komunikasi lisan, dan (4) penambah informasi.

Kegiatan menyimak dalam kehidupan manusia untuk: (1) memperoleh informasi, fakta dan insprasi; (2) membedakan bunyi bahasa dengan tepat, (3) menikmati dan menghargai pembicaraan; (4) menilai hasil simakan; dan (5) meningkatkan keterampilan berbahasa. Sebagai suatu proses, menyimak berlangsung dengan tahapan-tahapan: (1) mendengarkan, (2) memahami, (3) menginterprestasi; (4) menilai simakan, dan (5) menanggapi. Sebagai suatu proses, menyimak berlangsung dengan tahapan-tahapan: (1) mendengarkan; (2) memahami; (3) menginterprestasi; (4) mengevaluasi; dan (5) meningkatkan keterampilan berbahasa.

Untuk dapat menyimak dengan baik terhadap bahan simakan diperlukan kemampuan: (1) memusatkan perhatian; (2) menangkap bunyi; (3) mengingat; (4) linguistik dan non-linguistik; (5) menilai, dan (6) menanggapi. 

Terdapat sejumlah jenis menyimak, tergantung dari aspek mana yang ditekankan. Aspek-aspek yang dijadikan dasar pengklasifikasian menyimak: (1) sumber suara, (2) cara menyimak,(3) taraf hasil simakan; (4) keterlibatan penyimak dan kemampuan khusus; dan (5) tujuan menyimak.
Dalam menyimak melibatkan beberapa faktor, antara lain: pembicara, pembicaraan, situasi, dan menyimak. Aktivitas dapat efektif bila faktor-faktor tersebut memenuhi sejumlah persyaratan antara lain:
  • Pembicara: menguasai materi, berbahasa yang baik dan benar, percaya diri, berbicara sistematis, gaya berbicara menarik, dan kontak dengan pendengar.
  • Pembicaraan: aktual, berguna, dalam pusat minat menyimak, sistematis seimbang dengan taraf kemampuan penyimak.
  • Situasi: ruangan mendukung, waktu tepat, ketenangan terjamin dan peralatan mudah digunakan.
  • Penyimak: kondisi sehat dan fisik mental, perhatian terpusat. Tujuan jelas, minat tinggi, berkemampuan linguistik dan non linguistik dan berpengetahuan dan pengalaman luas.
Bahan Pembelajaran Menyimak 
Tujuan utama pembelajaran menyimak, melatih siswa memahami bahasa lisan. Oleh sebab itu, pemilihan bahan pembelajaran menyimak harus anda sesuaikan dengan karakteristik siswa SD.  Secara umum, bahan pembelajaran menyimak dapat menggunakan bahan pembelajaran membaca, menulis, kosakata, karya sastra, bahan yang Anda susun sendiri atau Anda ambil dari media cetak. Teknik penyajiannya dapat dibacakan langsung oleh guru atau melalui alat perekam suara.

Setelah menyampaikan bahan pembelajaran, guru secara langsung dapat mengadakan tanya jawab tentang isi materi yang sudah disampaikan atau menugasi siswa untuk menjawab pertanyaan, menceritakan kembali, menemukan tema, atau menyimpulkan.
1) Metode Pembelajaran Menyimak
Beberapa metode menyimak yang dapat dilaksanakan di kelas tinggi sekolah dasar antara lain: 1) Metode menjawab pertanyaan; 2) Metode identifikasi tema kalimat topik/kata kunci; 3) Metode penyelesaian cerita; 4) Metode parafrasa; 5) Metode merangkum pembicaraan; 6) Simak ulang ucap; 7) Simak uang tulis; 8) Dikte; 9) Bisik berantai; 10) Permainan bahasa

2. Pembelajaan Berbicara
a. Klasifikasi Berbicara
Klasifikasi berbicara dapat dilakukan berdasarkan tujuannya, situasinya, cara penyampaiannya, dan jumlah pendengarnya. Adapun materi pembelajaran berbicara di sekolah dasar diantaranya: 1) bercakap-cakap, 2) berdialog, 3) berdiskusi, 4) wawancara, 5) berpidato, 6) bermain peran; 7) berbalas pantun; dan sebagainya.
b. Bahan dan Strategi Pembelajaran Berbicara
Tujuan utama pembelajaran berbicara di SD adalah melatih siswa dapat berbicara dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru dapat menggunakan bahan pembelajaran berbicara, misalnya menceritakan pengalaman yang mengesankan, menceritakan kembali cerita yang pernah dibaca atau didengar, mengungkapkan pengalaman pribadi, bertanya jawab berdasarkan bacaan, bermain peran, berpidato, bercakap-cakap. Faktor-faktor yang diamati adalah lafal kata, intoasi kalimat, kosakata, tata bahasa, kefasihan bicara dan pemahaman.

3. Pembelajaran Membaca 
a. Pembelajaran Membaca Permulaan 
Pengajaran membaca yang paling baik adalah pengajaran membaca yang didasarkan pada kebutuhan anak dan mempertimbangkan apa yang telah dikuasai anak di TK. Rubin (1993) mengemukakan beberapa kegiatan yang dilakukan dalam pengajaran membaca, sebagaimana dikemukakan berikut ini.
1) Kegiatan Membaca Permulaan
  • Peningkatan ucapan. Kegiatan difokuskan pada peningkatan kemampuan murid mengucapan bunyi-bunyi bahasa. 
  • Kesadaran Fonetik (Bunyi). Kegiatan ini difokuskan untuk menyadarkan anak bahwa kata dibentuk oleh fonem atau bunyi yang membedakan makna. Kesadaran fonemik meliputi: a) Pembedaan bunyi; b) Pembedaan huruf; c) Konsonan awal dan akhir, klaster awal dan akhir, konsonan yang dilambangkan dua huruf (ny, ng, kh, sy); d) Vokal dan diftong; e) Huruf-huruf tertentu dan bunyinya; dan f) Suku kata
  • Hubungan antar Bunyi-Huruf. Pengetahuan tentang hubungan bunyi-huruf merupakan prasyarat untuk dapat membaca. Jika anak mengalami kesulitan dalam hal hubungan huruf-huruf, guru perlu mengajarkan hubungan huruf-huruf secara terpisah. Guru dipandang perlu mengidentifikasikan apakah anak telah dapat dengan tepat mencocokkan bunyi dengan huruf. 
  • Kemampuan mengingat
  • Orientasi dari kiri ke kanan 
  • Keterampilan kosa kata dan makna kata 
Pengenalan kata merupakan proses yang melibatkan kemampuan mengidentifikasi simbol tulis, mengucapkan dan menghubungkan dengan makna. 

2) Materi Pembelajaran Membaca Permulaan 
Berdasarkan Kurikulum atau silabus mata pelajaran bahasa Indonesia yang telah disusun pada sekolah setempat salah satu contoh materi pembelajaran membaca permulaan ialah sebagai berikut.
Kelas I:
Materi kelas I diurutkan sebagai berikut:
Semester Pertama:
a. Persiapan (Pramembaca)
Pada tahap persiapan (pramembaca) ini, kepada anak dikenalkan tentang: (1) sikap duduk yang baik, (2) cara meletakkan atau cara menempatkan buku di meja, (3) cara memegang buku, (4) cara membalik halaman buku yang tepat, dan (5) melihat/memperhatikan gambar atau tulisan.
Pada tahap persiapan ini sering dinamakan tahap membaca tanpa buku. Setelah tahap ini, yaitu tahap sesudah pramembaca disebut tahap membaca dengan buku.
b. Sesudah Pramembaca:
Pada tahap Membaca permulaan ini anak dikenalkan tentang: (1) lafal atau ucapan kata (menirukan guru), (2) intonasi kata dan intonasi kalimat (lagu kalimat sederhana), huruf-huruf yang banyak digunakan dalam kata dan kalimat sederhana yang sudah dikenal anak, (3) kata-kata baru yang bermakna (menggunakan huruf-huruf yang sudah dikenal).
Huruf-huruf diperkenalkan secara bertahap. Tahap pertama, dikenalkan sampai dengan 14 huruf. Keempat belas huruf tersebut sebagai berikut:
1) a, i, m, dan n
2) u, b, dan l
3) e, t, dan p
4) o dan d
5) k dan s
Misalnya:
1) kata: ini, mama; untuk kalimat: mi mama
2) kata: ibu, lala; untuk kalimat: ibu lala
3) kata: itu, pita, ela; untuk kalimat: itu pita ela
4) kata: itu, bola, dadi; untuk kalimat: itu bola dadi
5) kata: kaki, siti, dua; untuk kalimat: kaki siti dua
Tahap kedua, diperkenalkan lafal dan intonasi yang sudah dikenal dan kata baru. Huruf yang diperkenalkan 10 sampai 27 huruf.
Misalnya:
1) Huruf baru: h, r, j, g. dan y
     Kata baru: hari, raja, jaga, gajah, bayi
2) Huruf baru lainnya: q, z, x, v, kh
     Kata baru: quran, zakat, supra x, vitamin, khairul
3) Materi lainnya berupa puisi yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan tingkat usia siswa.
Misalnya:
kakekku
ini kakekku
kakek dari ibu
gigi kakek hanya satu
kakekku amat lucu

Semester kedua:
Materi pembelajaran Membaca Permulaan berikutnya:
(a) Bacaan lebih kurang 10 kalimat (dibaca dengan lafal dan intonasi yang wajar).
Misalnya:
itu papa tina 
papa tina makan ubi
papa saya juga makan ubi 
dst.
(b) Kalimat-kalimat sederhana (untuk dipahami isinya)
Misalnya:
sita dan tini naik kuda
mereka membeli roti
roti dibeli juga untuk adik 
(c) Huruf kapital pada awal kata nama orang, Tuhan, agama, kitab suci, awal kalimat
Misalnya:
Tina, Siti, Badu, Anto
Allah, Tuhan Yang Maha Esa
Agama Islam, Agama Katolik, Agama Kristen,
Agama Hindu
Al Qur’an, Al Kitab, Weda, Taurat, Injil, Tri Pitaka
(d) Penggunaan tanda baca titik (.) pada akhir kalimat

Kelas II:
Materi untuk kelas II dirutkan sebagai berikut:
Semester pertama:
1. Paragraf (15 sampai 20 baris) dibaca dengan lafal dan intonasi yang tepat dan wajar.
Bahan untuk itu dapat diambil dan bahan ajar, atau dan majalah anak-anak, misalnya Bobo dengan memilih wacana yang ada kaitannya dengan bidang studi Marematika, IPS, PKn, atau IPA.
2. Kalimat-kalimat sederhana (untuk dipahami isinya).
Bahan untuk ini pun dapat diambil dan bacaan dengan bidang studi IPS, IPA, PKn, atau Matematika, yang sesuai dengan tingkat kemampuan anak. Jika hal itu sulit dilakukan, guru dapat membuat sendiri.
3. Huruf besar pada awal kalimat.
Bahan untuk ini juga dapat dibuat oleh guru sendiri, atau diambilkan dari majalah anak-anak atau bacaan yang lain, yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan usia siswa.
4. Bacaan dengan kalimat-kalimat sederhana (menggunakan huruf kapital pada awal kalimat) untuk dipahami isinya.

Semester kedua:
  • Cerita anak-anak (dengan memperhatikan jeda yang ada di dalam bacaan)
  • Percakapan/ dialog tentang suatu kegiatan (menggunakan tanda baca berupa titik (.), dan tanda tanya (?) pada akhir kalimat).
  • Puisi anak-anak (dibaca secara kelompok).
  • Problem Umum yang Dihadapi Anak dalam Membaca Permulaan
Dalam pelaksanaan pengajaran membaca, guru seringkali dihadapkan pada anak yang mengalami kesulitan, baik yang berkenaan dengan hubungan bunyi-huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana, maupun ketidakmampuan anak memahami isi bacaan. Pada tabel 5.2.1 berikut dikemukakan kesulitan-kesulitan yang umumnya dihadapi anak dalam belajar membaca. 
No
Kategori
Wujud
1
Pramembaca1) Kurang mengenali huruf

2

Membaca Bersuara
1) Membaca kata demi kata
2) Memfrasekan yang salah
3) Miskin pelafalan (kesalahan pengucapan)
4) Penghilangan
5) Pengulangan
6) Pembalikan
7) Penyisipan
8) Penggantian
9) Menggunakan gerak bibir, menggunakan jari telunjuk

3

Pemecahan kode (decoding)
1) Kesulitan konsonan
2) Kesulitan vokal
3) Kesulitan kluster, diftong, digraf
4) Kesulitan menganalisis struktur kata
5) Tidak mengenali makna kata dalam kalimat
b. Pembelajaran Membaca Lanjut
Proses membaca sangat komplek dan rumit karena melibatkan beberapa aktivitas, baik berupa kegiatan fisik maupun kegiatan mental. Proses membaca terdiri dari beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut adalah (1) aspek sensori, yaitu kemampuan untuk memahami simbol-simbol tertulis, (2) aspek perseptual, yaitu kemampuan untuk menginterpretasikan apa yang dilihat sebagai simbol, (3) aspek skemata, yaitu kemampuan menghubungkan berpikir, yaitu kemampuan membuat inferensi dan evaluasi dari materi yang dipelajari, dan (4) aspek afektif, yaitu aspek yang berkenaan dengan minat pembaca yang berpengaruh terhadap kegiatan membaca. Interaksi antar-aspek tersebut secara harmonis akan menghasilkan pemahaman membaca yang baik, yakni terciptanya komunikasi yang baik antara penulis dengan pembaca.

Pembelajaran membaca harus mempunyai tujuan yang jelas. Tujuan yang dimaksud meliputi: a) Menikmati keindahan yang terkandang dalam bacaan; b) Membaca bersuara untuk memberikan kesempatan kepada siswa menikmati bacaan; c) Menggunakan strategi tertentu untuk memahami bacaan; d) Menggali simpanan pengetahuan atau skemata siswa tentang suatu topik; e) Menghubungkan pengetahuan barudg skemat siswa; f) Mencari informasi untuk pembuatan laporan yang akan disampaikan dengan lisan ataupun tulisan; g) Melakukan penguatan atau penolakan terhadap ramalan-ramalan yang dibuat oleh siswa sebelum meembuatan membaca; h) Memberikan kesempatan kepada siswa melakukan eksperimentasi untuk meneliti sesuatu yang dipaparkan dalam sebuah bacaan; i) Mempelajari struktur bacaan; j) Menjawab pertanyaan khusus yang dikembangkan oleh guru atau sengaja diberikan oleh penulis bacaan. 

Membaca melibatkan karakter khusus dan menggunakan pengenalan kata serta strategi pemahaman. Kosakata adalah salah satu dari beberapa faktor yang paling penting mempengaruhi pemahaman. 
1) Teknik dan Strategi Pembelajaran Membaca
Untuk meningkatkan pemahaman terhadap keseluruhan teks, biasanya guru menerapkan kegiatan prabaca, kegiatan inti membaca dan kegiatan pascabaca dalam pembelajaran membaca. 
a) Kegiatan Prabaca
Kegiatan prabaca dimaksudkan untuk menggugah perilaku siswa dalam penyelesaian masalah dan motivasi penelaahan materi bacaan. 1) Gambaran awal; 2) Petunjuk untuk melakukan antisipasi; 3) Pemetaan semantik; 4) Menulis sebelum membaca; dan 5) Dramaisimulasi (creative drama)
b) Kegiatan Inti Membaca
Beberapa strategi dan kegiatan dalam membaca dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Strategi yang dimaksud adalah : 1) Strategi metakogniotif; 2) Cloze procedure; 3)  Pertanyaan pemandu
c) Kegiatan Pascabaca: 1) Memperluas kesempatan belajar; 2) Mengajukan pertanyaan; 3) Mengadakan pameran visual; 4) Pementasan teater aktual; 5) Menceritakan kembali; 6) Penerapan hasil membaca
2) Jenis-jenis Membaca
  • Membaca bersuara: 1)  Membacakan; 2) Membaca teknik; 3) Membaca indah 
  • Membaca dalam hati (membaca pemahaman): 1) Membaca intensif; 2) Membaca kritis; 3) Membaca memindai; 4) Membaca bahasa; 5) Membaca apresiatif; 6) Membaca pustaka; 7) Membaca studi
4. Pembelajaran Menulis
Menulis dapat dipandang sebagai rangkaian aktivitas yang bersifat fleksibel. Rangkaian aktivitas yang dimaksud meliputi pramenulis, penulisan, draft, revisi, penyuntingan, dan publikasi atau pembahasan. Seperti halnya perkembangan membaca, perkembangan anak dalam menulis juga terjadi perlahan-lahan. Dalam tahap ini anak perlu mendapat bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran ke dalam tulisan. Combs (1996) mengemukakan bahwa perkembangan menullis mengikuti prinsip-prinsip berikut:  1) Prinsip keterulangan (recurring principle); 2) Prinsip generatif (generative principle); 3) Konsep tanda (sign concept); 4) Fleksibilitas (flexibility)

Siswa kelas awal dapat dikategorikan terampil menulis jika siswa telah mampu menuliskan lambang bunyi bahasa dalam tataran huruf, merangkai huruf menjadi suku kata dan kata, merangkai kata menjadi kalimat yang bermakna dan menyusun kalimat menjadi peragraf sederhana. Tulisan siswa tersebut lengkap/tidak ada huruf yang kurang, terbaca, benar tulisannya (bentuknya, merangkainya), dan sudah mengikuti kaidah EYD bila sudah diajarkan. 

Pembelajaran menulis dilaksanakan dalam jam pelajaran dan di luar jam pelajaran. Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis di kelas adalah bermain-main dengan bahasa dan tulisan, kuis, membuat atau mengganti akhir cerita, dan menulis meniru model. Di luar jam pelajran, guru dapat menggunakan strategi menulis buku harian, menyelenggarakan majalah dinding atau membuat kliping yang semuanya diarahkan agar siswa senang menulis. Latihan menulis di kelas tinggi dapat dipancing dengan: 1) Gambar; 2) Pengalaman; 3) Peribahasa atau puisi dan sebagainya 

Materi pembelajaran membaca menulis meliputi sastra dan non sastra. Pembelajaran membaca menulis sastra meliputi puisi, prosa, dan drama. Adapun pembelajaran membaca menulis non sastra meliputi MMP, pengumuman, undangan, surat, laporan pengamatan, meringkas isi bacaan, dan lain-lain. 

5. Pembelajaran Apresiasi Sastra
a. Membaca Puisi 
Gema Hati Seorang Anak di Hari Sumpah Pemuda
Ma,
Pagi tadi sang saka merah putih berkibar lagi, 
Aku jadi pembaca ikrar Sumpah Pemuda 
Alangkah bangganya 

Ma,
Kaki kecilku melangkah tegap....
Kuulangi lagi Sumpah Pemuda Setia dan bersatu pada negara......
Satu kebanggaan meresap di kalbuku pagi itu, ma
Ketika aku meneriakkan 
Bertanah air satu
Berbangsa satu
Berbahasa satu 
Indonesia.....tercinta     (karya: Connie Adidjaya)
  • Berilah kesempatan membaca dalam hati agar anak dapat menghayati isi bacaan secara garis besarnya.
  • Guru bersama siswa membahas kesukaran bahasa dan makna kata (jika ada) agar anak tidak terganggu dalam memahami puisi tersebut. 
b. Pertanyaan Bacaan
c.  Penilaian 
Hal-hal yang dinilai dari membaca puisi di atas antara lain adalah:
  • Pemahaman terhadap wacana
  • Ketepatan ucapan atau lafal, nada, irama, dan lagu kalimat
  • Kuat atau lemah, keras atau lembut: jelas atau tidaknya suara (termasuk volume)
  • Penghayatan dan penjiwaan terhadap wacana yang dibaca
  • Penampilan atau ekspresi pada waktu membaca 
d. Menulis Puisi
Untuk dapat menulis puisi, siswa dapat mencontoh puisi yang sudah ada, menarasikan pengalamannya, mendeskripsikan sesuatu atau dipancing dengan huruf awal pada setiap lariknya yang mendukung tema tertentu. 
KARTINI 
Kaulah pelita wanita Indonesia 
Alangkah besar jasamu pada pertiwi ini
Ramah, lembut penampilanmu
Tapi semangatmu tak pernah padam 
Indah di hati kami 
Nan kian mewangi 
Itulah yang harus kami warisi
6. Pembelajaran Bahasa Indonesia (Penerapan Pendekatan Pembelajaran 
     Whole Language)
1. Pembelajaran Kompetensi Dasar “Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan” dengan pendekatan Whole Language.

Laporan dapat diartikan segala sesuatu yang dilaporkan (Depdiknas, 2005: 640). Dengan demikian, “laporan pengamatan” bisa berarti laporan yang memuat hasil pengamatan. Begitu pula “laporan kunjungan”, bisa berarti laporan yang memuat hasil kunjungan.
Tujuan laporan pengamatan atau laporan kunjungan dapat beraneka macam, di antaranya adalah:
  • Memberikan keterangan atau penjelasan tentang sesuatu yang diamati atau dikunjungi. 
  • Memberitahukan sesuatu tentang hal yang diamati atau dikunjungi.
  • Memulai kegiatan, cara melaksanakan kegiatan, mengkoordinasikan seluruh kegiatan, dan merangkum pelaksanaan kegiatan, jika hal-hal yang dilaporkan merupakan suatu kegiatan.
Langkah-langkah Pembelajaran Menulis Laporan Pengamatan atau Kunjungan dengan Pendekatan Whole Language
  • Guru mengkondisikan siswa kemudian memberikan apersepsi: “Pernahkah kalian melakukan pengamatan terhadap sesuatu?”
  • Guru menyampaikan kompetensi yang harus dikuasai siswa dan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, misalnya: “Anak-anak, pada kesempatan ini kita akan belajar tentang menulis laporan pengamatan, dan seusai pembelajaran ini, kalian hendaknya dapat menulis laporan pengamatan tentang sesuatu. 
  • Guru memotivasi siswa bahwa dengan melakukan pengamatan terhadap sesuatu maka seseorang akan terbiasa menjadi orang yang cermat dan teliti, kemudian siswa diajak menyanyikan lagu “Lihat Kebunku”.
Lihat KebunkuLihat kebunkuPenuh dengan bungaAda yang putih dan ada yang merahSetiap hari ku siram semuaMawar, melati, semuanya indah
  • Guru meminta kepada siswa untuk mencermati syair lagu tersebut, kemudian memberikan beberapa pernyataan, misalnya (1) apa yang dilihat atau diamati; (2) kapan…..; (3) di mana…..; (4) siapa yang……; (5) mengapa disirami?; dan (6) bagaimana keadaan bunga tersebut?
  • Siswa diminta membentuk kelompok yang terdiri dari 3-4 siswa. 
  • Guru memberikan contoh laporan hasil pengamatan (tetapi jika di dalam buku teks siswa atau buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia sudah ada contohnya, maka guru tinggal menyuruh siswa untuk membuka contoh yang ada pada buku tersebut). 
  • Secara individu (dalam kelompok) siswa membaca (dalam hati) contoh laporan pengamatan (sustained silent reading)
Contoh: 
Laporan Pengamatan Tertib Berlalu Lintas
Tema: Budaya Tertib
A. Pendahuluan
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang.Atas berkah dan rahmat-Nya, kami sekelompok dapat melakukan pengamatan tertib berlalu lintas. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Sulastin.Beliaulah yang telah membimbing kami dalam melakukan pengamatan dan pembuatan laporan ini.
B. Pelaksanaan Kegiatan
Dalam rangka mencari informasi yang berhubungan dengan tertib berlalu lintas, kami melakukan pengamatan di persimpangan Jalan Pemuda Klaten.
Kegiatan ini kami lakukan pada hari Senin, 11 Februari 2008, pukul 06.30–14.00. Di sana terdapat empat lampu lalu lintas. Di dekat tiap-tiap lampu kami tempatkan satu petugas untuk melakukan pengamatan.
Berdasarkan catatan pengamatan dapat kami laporkan perihal berikut.
1. Kepadatan Lalu Lintas
Lalu lintas sangat padat, terutama pada pukul 06.30–07.30. Pada saat itu jalan dipadati
anak-anak sekolah, pekerja, dan pegawai. Selepas pukul 08.00 jalan agak sepi. Kendaraan yang lewat pada umumnya kendaraan umum. Pada pukul 13.00–14.00 lalu lintas kembali padat. Waktu itu saatnya para pelajar dan beberapa pegawai pulang. Namun, kepadatan lalu lintas tersebut tidak sampai menimbulkan kemacetan. Lalu lintas dapat dikatakan lancar.
2. Pelanggaran Lalu Lintas
Selama kami melakukan pengamatan, terdapat beberapa pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran yang cukup banyak adalah terkait dengan helm. Pengendara sepeda motor yang tidak memakai helm standar ada 13 dan yang tidak memakai helm ada 5. Selain itu, ada 3 pengendara melanggar lampu merah.
3. Peranan Polisi
Peranan polisi masih sangat dibutuhkan untuk menangani berbagai pelanggaran di perempatan itu.
C. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan berikut.
  1. Pada jam berangkat dan pulang sekolah lalu lintas sangat padat. Namun,tidak sampai menyebabkan kemacetan.
  2. Pelanggaran lalu lintas masih sering terjadi.
  3. Untuk menertibkan lalu lintas, peran polisi masih diperlukan.
Berdasarkan hal di atas, kami menyarankan para pengemudi dan pengendara motor untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Adapun polisi harus bersikap tegas untuk menekan terjadinya pelanggaran. Itu semua perlu dilakukan demi ketertiban dan keselamatan bersama.
D. Penutup
Demikianlah laporan hasil pengamatan kami terhadap lalu lintas yang ada di perempatan Jalan Pemuda Klaten. Semoga laporan ini bermanfaat bagi siapapun. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan.Atas tanggapan yang diberikan, sebelumnya kami ucapkan terima kasih.

Laporan ini disusun oleh:
1. Agus Endra W.
2. Ocktavia Kartika P.
3. Adhelia Candra K.
4. Putri Intan P.
  • Hasil membaca individu didiskusikan dengan teman kelompoknya untuik menemukan kesamaan pandang tentang isi dan sistematika laporan (shared reading).
  • Hasil diskusi kelompok dipresentasikan dan kelompok lain menanggapi.
  • Guru dan siswa menganalisis contoh laporan pengamatan (secara bersama-sama), baik mengenai isi maupun urut-urutan/sistematika laporan (guided reading)
  • Guru menjelaskan bahwa hal yang diamati harus dilaporkan secara apa adanya (objektif) dari segala sesuatu yang dilihatnya, didengarnya diraba/yang dirasakan oleh kulit kita, yang dibau, yang dikecap (bila ada), dan yang dirasakan oleh perasaan/hati (5 indera + 1 perasaan). 
Adapun langkah-langkah membuat laporan di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Melakukan Pengamatan
Sebelum melakukan pengamatan, harus menentukan sesuatu yang akan kamu amati. Sesuatu yang akan diamati disebut objek pengamatan. Sesudah menentukan objek, harus menentukan perihal apa saja yang akan diamati dari objek tersebut. Selanjutnya, dapat dilakukan pengamatan. Bawalah perlengkapan yang diperlukan, misalnya, alat tulis dan kamera jika diperlukan.
2) Membuat Catatan
Pada saat melakukan pengamatan, cobalah mencatat peristiwa atau perihal yang telah ditentukan. Hal yang diamati itu, misalnya, kepadatan lalu lintas di jalan raya dekat sekolahmu. Untuk itu harus mencatat orang dan kendaraan yang lewat.
Perhatikan contoh catatan pengamatan berikut ini!
Catatan Pengamatan Tertib Berlalu Lintas
a) Tema : budaya tertib.
b) Tujuan : mengetahui kesadaran masyarakat akan tata tertib berlalu lintas.
c) Pelaksanaan
Hari dan tanggal : Senin, 11 Februari 2008.
Waktu : pukul 06.30–14.00.
Tempat : perempatan Jalan Pemuda Klaten  (lampu merah).
d) Kegiatan
  • Mengamati jumlah kendaraan bermotor yang lewat.
  • Mengamati pengendara motor yang melakukan pelanggaran.
e) Hasil yang dicapai
  • Lalu lintas padat pada pagi dan siang hari antara pukul 13.00–14.00.
  • Pelanggaran terbanyak adalah tidak mengenakan helm standar ada 13, tidak memakai helm ada 5, dan melanggar lampu lalu lintas sebanyak 3 pengendara motor.
  • Peranan polisi lalu lintas masih sangat diperlukan meskipun sudah terdapat lampu lalu lintas.
3) Membuat Kerangka Laporan
Sesudah melakukan pengamatan, kegiatan berikutnya adalah membuat kerangka laporan. Kerangka itu akan memudahkanmu dalam membuat laporan yang urut dan teratur. Perhatikan contoh kerangka laporan di bawah ini !

Kerangka Laporan Pengamatan Tertib Berlalu Lintas

A. Pendahuluan
Ucapan terima kasih
B. Pelaksanaan Kegiatan
1. Tempat dan waktu pengamatan
2. Petugas
3. Hasil yang diperoleh
C. Kesimpulan dan Saran
D. Penutup
4) Menulis Laporan
Kegiatan selanjutnya adalah menulis laporan. Kerangka yang sudah dibuat dikembangkan menjadi laporan utuh (guided writing)
  • Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 
  • Guru dan siswa menyimpulkan cara-cara menulis laporan pengamatan.
  • Guru memberikan tugas kepada siswa untuk menulis laporan pengamatan secara kelompok (independen writing)
Coba kerjakan bersama kelompokmu!
1) Bagilah kelasmu menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri atas tiga atau empat 
     siswa!
2) Lakukanlah pengamatan terhadap salah satu objek berikut!
     a) Perpustakaan sekolah.
     b) Kegiatan anak-anak pada saat istirahat.
     c) Tempat parkir sekolah.
     d) Kamar kecil sekolah
3) Buatlah catatan pada saat melakukan pengamatan, kemudian diskusikan dengan 
     kelompokmu!
4) Berdasarkan catatan pengamatan, buatlah kerangka laporan dan konsultasikan kepada 
     guru!
5) Kembangkan kerangka laporan tersebut menjadi laporan yang utuh!
6) Jika sudah selesai, kumpulkan kepada guru untuk dikomentari dan dinilai!
7) Perbaiki laporanmu berdasarkan saran atau komentar guru!

Arti Penting Lingkungan Hidup Bagi Manusia

Arti Penting Lingkungan Hidup Bagi Manusia
Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Dari definisi tersebut, secara garis besar terdapat tiga komponen penting, yaitu komponen fisik (abiotik), komponen hayati (biotik), dan komponen budaya.


Komponen fisik yang terdapat dalam lingkungan hidup terdiri atas tanah, air, udara, sinar matahari, senyawa kimia dan sebagainya. Fungsi komponen fisik dalam lingkungan hidup adalah sebagai media untuk berlangsungnya kehidupan. Sebagai contoh, air diperlukan oleh semua makhluk hidup untuk mengalirkan zat-zat makanan, dan matahari merupakan energi utama untuk bergerak atau berubah. Jika unsur ini tidak ada, maka semua kehidupan yang terdapat di muka bumi ini akan terhenti. Tanah sebagai unsur lingkungan fisik menjadi medium tumbuhnya tanaman. Air merupakan sumber penghidupan bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Udara merupakan sumber kehidupan yang utama bagi semua makhluk hidup.

Komponen hayati dalam lingkungan hidup terdiri atas semua makhluk hidup yang terdapat di bumi, mulai dari tingkatan rendah sampai ke tingkat tinggi, dari bentuk yang paling kecil hingga yang paling besar. Sebagai contohnya adalah hewan, tumbuhan.

Komponen manusia dan perilakunya merupakan unsur lingkungan hidup. Lingkungan sosial dan budaya berperan penting dalam memelihara keseimbangan tatanan lingkungan hidup. Lingkungan yang telah mendapat dominasi dari intervensi manusia biasa dikenal dengan lingkungan binaan. Penghayatan manusia terhadap nilai-nilai hidup keagamaan, moral dan etika lingkungan serta kearifan local senantiasa mengarahkan persepsi, tindakan manusia terhadap lingkungan hidup.

Lingkungan hidup terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan hayati, lingkungan sosial. Lingkungan hidup merupakan tempat berinteraksinya makhluk hidup yang membentuk sistem jaringan  kehidupan. Lingkungan hidup merupakan wahana bagi keberlanjutan kehidupan. Selain itu arti pentingnya lingkungan hidup merupakan tempat tinggal atau habitus semua makhlk hidup dari mulai tingkat rendah sampai ke tingkat yang tinggi. Masing-masing spesies membentuk suatu kelompok. Tingkatan kelompok makhluk hidup yang hidup pada suatu wilayah, yaitu populasi, komunitas, ekosistem, biosfer ( Diknas, 2005 ). Kelompok makhluk hidup sejenis yang hidup dan berkembang biak pada suatu wilayah, disebut populasi ( populasi manusia, populasi badak, populasi komodo ). Semua populasi dari berbagai jenis yang menempati daerah atau kawasan tertentu dinamakan komunitas. Tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan , stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup dinamakan ekosistem.

Pengelolaan Lingkungan Hidup
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup (Mitra Info, 2000). Pengelolaan lingkungan hidup diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumberdaya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.

Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah:
  1. Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup.
  2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insane lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungn hidup.
  3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan.
  4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup.
  5. Terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana.
  6. Terlindungnya NKRI terhadap dampak usaha dan / atau kegiatan di luar wilayah Negara yang menyebabkan perusakan lingkungan hidup.
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan, disebut perusakan lingkungan hidup.

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang (Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup (1993). Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu, meliput sektoral, ekosistem, dan bidang ilmu. Dalam operasionalnya terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumberdaya alam nonhayati, perlindungan sumberdaya buatan, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragman hayati dan perubahan iklim.

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab: (a) para pengambil keputusan pengelolaan lingkungan hidup, (b) masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup, (c) kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tamping lingkungan hidup, (d) kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, (e) mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup, (f) memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang ramah lingkungan, (g) menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup, (h) menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskan kepada masyarakat, dan (i) memberikan penghargaan kepada orang lain atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup.

Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup (Amdal). Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 27 Tahun 1999 tentang Amdal, yang dimaksud Amdal adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan, disebut dampak besar dan penting. Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajb dilengkapi dengan dokumen Amdal saat ini diatur dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tanggal 21 Februari 2000.  Dokumen Amdal meliputi Analisis dampak lingkungan hidup (Andal), rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Analisis dampak lingkungan hidup (Andal) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan, disebut rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL). Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan